Cerita dan Inspirasi, Keluarga

Ajari Anak Memahami Kesalahannya Sendiri

Bismillah…

Assalamualaikum Bunda, salam sejahtera untuk para Ibunda, wanita-wanita Indonesia hebat yang sedang berusaha terus  memperbaiki diri demi perbaikan generasi anak-anak kita mendatang. Selamat datang lagi di Jemarikids blog.

Bagaimana kabar anak-anak, semoga sehat selalu dan semakin baik setiap harinya. Hari ini saya mau cerita sedikit pengalaman saya tentang anak yang suka menyalahkan orang lain atau saudaranya. Anak-anak saya yang notabene laki semua memang tidak lepas dari yang namanya bertengkar, berebut mainan, saling usil dan banyak kepintaran lainnya hehehe.

Pernah pada suatu saat anak ke 3 saya tetiba menangis disaat bermain dengan abang-abangnya, saat itu saya sedang ada di ruangan sebelah kamar. Lalu saya menghampiri mereka dan spontan ibu-ibu yang menanyakan ada apa kepada abang-abangnya. Lalu mereka saling menyalahkan satu sama lain hingga sayapun dibuat bingung apa yang sebenarnya terjadi. Lalu saya menanyakan ke adiknya, meskipun anak ke 3 saya belum bisa bicara namun seorang anak sudah mampu memahami kejadian yang terjadi dengan polos. Si adik langsung menunjuk Abangnya yang pertama dan menunjuk tangannya. Ternyata dia dicubit sama abangnya karena si adik mencoba untuk memainkan mainan yang sedang dimainkan.

Yang menjadi perhatian saya dari kejadian ini adalah kok si abang-abangnya ini gak bicara jujur apa adanya aja yah, kenapa lebih memilih untuk menyalahkan orang lain. Singkat cerita saya kembali buka-buka buku dilemari mengenai pola asuh anak. Ketemu bukunya Ayah Edy tentang Kebiasaan buruk Orangtua yang berdampak pada anak. Ada satu topik yang akhirnya membuat saya ngangguk-ngangguk yaitu tema Raja Yang Tak Pernah Salah.

Apa sih maksudnya Raja Yang Tak Pernah Salah ?

Bunda, coba kita jujur pada diri sendiri dan kembali mundur ke belakang, pernahkah mengalami kejadian dimana anak kita yang masih kecil, baru bisa berjalan lalu kepleset atau kesandung sesuatu, kejedot meja dan sebagainya. Lalu respon kita adalah menyalahkan benda tersebut dari kelalaian si anak, semakin terus kita berulang, maka ternyata itu menghasilakn dampak pada si anak, dia akan memahami bahwa disaat dia terkena dampak dari akibat kelalaian atau ketidakhatiannya, maka bukan dia lah yang harus memperbaiki diri melainkan orang atau benda lain yang salah, dan dia akan tetap merasa benar atas apa yang diakibatkannya. Pemahaman ini bisa terbawa sampai dewasa jika tetap dibiarkan. Dampaknya pun bisa berakibat buruk karena anak kita akan tetap terus mencari kambing hitam untuk disalahkan dari hasil perbuatannya, dia tidak akan bisa belajar bertanggung jawab atas resiko dari perbuatannya.

Bahkan jika kita merespon dengan cara pemukulan, semisal anak kita kesandung kaki kursi, dan nangis, allu kaki kursinya kita pukul dan menyalahkannya agar anak kita terdiam dari nangisnya, kebiasaan ini akan terekam di alam bawah sadarnya bahwa setiap persoalan bisa diatasi dengan cara pemukulan / kekerasan. Tentunya kita tidak ingin terjadi seperti ini. Karena itu pentingnya kita terus belajar dengan membaca dan menambah keilmuan dari berbagai literatur untuk menghindari kecerobohan yang berakibat buruk bagi anak.

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallaahu ‘anhu berkata:

الْعِلْمُ إمَامُ الْعَمَلِ وَالْعَمَلُ تَابِعُهُ

“Ilmu adalah pemimpin amal, dan amal adalah pengikut ilmu” (Dari kitab al-Amru bil Ma’ruf wan nahyu anil munkar karya Ibnu Taimiyyah halaman 15).

Umar bin Abdil Aziz rahimahullah berkata:

مَنْ عَبَدَ اللَّهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِح

“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka ia lebih banyak merusak dibandingkan memperbaiki” (Dari kitab Majmu’ Fataawa Ibn Taimiyyah: 2/383).

Dari beberapa literatur dan bacaan yang saya baca, maka saya mulai memahami kenapa anak-anak saya berbuat demikian, ya saya mengakui pernah melakukan kesalahan tersebut di masa lalu, karena minimnya keilmuan dan hanya melihat yang pernah dilakukan oleh orang saja. Ternyata apa yang pernah saya dan mungkin orangtua saya lakukan kepada anak-anak saya dulu saat mereka kecil dan melakukan hal ceroboh, kami suka bahkan sering menggunakan cara menyalahkan benda atau orang lain agar anak-anak saya diam dari tangisannya.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk merubahnya perlahan?

Langkah awal yang bisa dilakukan adalah komunikasikan hal ini dengan pasangan, satukan visinya lalu informasikan ke seluruh anggota di rumah, terapkan dengan konsisten dan kemauan berubah. Setelah itu sudah disepakati, barulah terhadap respon kita ke anak yang harus dirubah, Kita mulai memberikan pemahaman perlahan dan berulang tentang pentingnya memahami kesalahan yang diperbuat pada dirinya sendiri agar si anak juga paham bahwa kesalahan ada pada dirinya, tapi tetap dengan cara yang bijak dan lembut pada anak.

Misal si anak tersangdung kaki kursi, maka sebaiknya kita bisa merespon dengan salah satu cara “Adek kenapa? tersandung kaki meja yah? Sakitkah dek? (sambil mengelus-elus tempat terbentunya, “Adek kalau jalan hati-hati ya, kalau gak hati-hatijadinya bisa tersandung seperti ini, sakit kan jadinya.”

Inshaa Allah, dengan kita merubah sedikit cara kita terhadap anak, akan berdampak besar bagi mereka. Tahan emosi kita karena jika kita terlalu sering memarahi mereka maka mereka akan malas jujur dan akan takut bicara dengan kita disaat mereka melakukan kesalahan berikutnya.

Semoga beranfaat dan dapat merubah pola asuh, mindset dan sudut pandang kita terhadap keaktifan anak-anak kita. Nantikan sahring saya selanjutnya.

———————————————— www.JemariKids.com—————————————————

Bagi yang belum mendapatkan produk Cushion bantal Unik Sketsa Anak, masih tersedia stocknya di http://jemarikids.com/shop/ , banyak gratisannya antara lain

  1. Cover bantal unik / cushion case senilai Rp.179.900
  2. Goodie bag “Every kids is an artist” senilai Rp.74.900
  3. Voucher diskon Rp.100.000

Semua itu GRATIS bisa Bunda dapatkan hanya dengan cukup membeli 1 produk Cushion Sketch Unique saja di http://jemarikids.com/shop/

————

Sumber

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *