Cerita dan Inspirasi

JANGAN MARAHI AKU BUNDA, AKU SEDANG BELAJAR

Bunda dan Ayah, pernah gak mengalami kejadian dirumah saat lantai rumah jadi becek karena air tumpah, lantai kotor karena jejak kaki si kecil yang habis dari tanah, pakaian rapi yang berserakan dilantai, segala peralatan dapur atau perkakas menjadi berantakan, semua karena ulah si kecil? Silahkan dijawab dan coba simak cerita dari pengalaman saya dibawah ini, bukan berniat menggurui hanya ingin mengajak merenung dan sama-sama belajar karena dari pengalaaman saya ini, sayapun juga belajar banyak.

Suatu ketika saya sedang mengambil baju-baju yang telah rapih di setrika untuk dimasukkan kedalam lemari pakaian, baik itu pakaian saya, suami saya dan anak-anak saya. Seperti biasanya, pakaian tersebut diletakkan disebuah wadah keranjang pakaian. Saya biasa memulai dengan memasukkan pakaian anak-anak terlebih dahulu. Saat itu saya ditemani oleh anak ketiga saya yaitu Fathir yang baru berusia 16 bulan.

Disela-sela saya merapikan, terdengar suara panggilam telepon masuk dari handhone saya di ruangan sebelah kamar anak. Sayapun meninggalkan sebentar aktifitas saya dan juga fathir id ruangan sebelah yang terkoneksi langsung. Setelah saya kembali ke ruangan kamar anak-anak, ternyata ada pemandangan yang cukup bikin saya menghela nafas panjang hehehe. Pakaian di lemari yang sudah saya rapihkan tetiba jadi berantakan karena ulah fathri, yang dilemari jadi berantakan, dan ada pakaian-pakaian yang menggeletak dilantai, belum lagi pakaiana yang didalam keranjang yang sebelumnya sudah terlipat rapih sekarang jadi berantakan lagi.

Jika ayah dan bunda yang mengalami hal ini, apa yang spontan kalian lakukan? Pada umumnya akan melarang bahkan menjauhkan si anak dengan nada ucapan yang juga mungkin dengan nada tinggi, atau ada juga yang langsung marah-marah karena lelah harus merapihkan lagi dan lain-lainnya. Padahal dengan memarahi anak dengan nada tinggi, kita telah mematikan sinaps-sinaps dalam otak si kecil yang sedang berkembang.

Alhamdulillah saat itu saya tidak terpancing untuk merespon yang seperti saya sebutkan diatas, saya hanya diam dan mengamati polah tingkahnya yang sedang sibuk berusaha memasukkan baju kedalam lemari.

Saya mendekatinya dan menegurnya “Fathir lagi apa nak?

Fathir yang belum pandai berbicara ini hanya menunjuk kedalam lemari seakan memberitahu kalau dia sedang berusaha memasukkan baju kedalam lemari sambil berceloteh “uuhh… huuhh… huuuh…”.

————————–   Penasaran Dengan Karya Jemarikids,com, klik aja gambar dibawah   ————————–

image host

Ternyata dia mengamati aktifitas saya sebelumnya yang mengambil baju yang telah rapih daeri keranjang lalu memasukkannya kedalam lemari. Disaat saya sedang menerima telepon, dia punya itikad baik ingin membantu saya dengan versinya. Itulah makna yang saya dapat dari sudut pandang lain saat itu. Fathir sedang berusaha memasukkan baju-baju tersebut dengan caranya sendiri berdasarkan apa yang dia lihat, memang belumlah serapih kita yang sudah terlatih karena sudah paham caranya. Tapi untuk anak usia Fathir tentu saja dia masih butuh banyak latihan, pengulangan, ujicoba, keberanian untuk memulai dan latihan. Seperti ungkapan yang sering suami saya ucapkan dari pembelajarannya disaat dia menasehati saya dalam berbisnis “Practice makes perfect”.

Saat itu saya ajak Fathir untuk benar-benar membantu saya, dari meminta tolong dia untuk menambil baju yang berserakan dilantai kedalam keranjang, itu melatihnya belajar memahami perintah. Mengajarkannya meipat pakaian dan membantunya memasukkan pakaian kedalam lemari dengan cara yang lebih tepat, sangat membantunya untuk belajar dari kesalahannya atau ketidaksemprnaan atas usahanya sebelumnya. Disamping itu, selain pembelajaran hal baru yang akan dia terima, anak juga akan merasa lebih percaya diri untuk melakukan dan mencoba hal yang sama untuk lebih baik lagi karena sudah makin memahami caranya. Anak juga akan lebih berani megeksplore hal baru dan yang terpenting adalah anak akan lebih nyaman dan percaya pada kita, jujur pada kita jika dia menemukan hal-hal baru karena respon kita yang tidak memarahinya dan membentaknya, ini akan terbawa kedalam kebiasaaannya disaat besar nanti.

Kembali ke  itikad baik si anak, sesungguhnya saya meyakini tidak ada anak yang nakal yang Allah ciptakan di dunia ini, yang terlihat oleh mata kita disaat ruangan berantakan ternyata si anak punya itikad untuk membantu kita, ingin mencoba sebab akibat dan sebagainya, yang kita perlukan adalah tenang dan gunakan “kacamta” lain untuk melihat berbagai sisi lain yang nantinya akan berpengaruh pada respon kita terhadap anak.

Saya pernah membaca sebiah buku Rumah Main Anak karangan Julia Sarah Rangkuti, bahwa anak seusia Fathir memang masa-masanya usia meniru apa yang dilakukan orang dewasa, dia ingin menunjukkan kalau dia pun bisa, dia ingin menarik perhatian kita agar kita berinteraksi positif dengannya. Ia memiliki dorongan ilmiah untuk meniru apa yang dikerjakan orang dewasa untuk belajar, menjadi mandiri, dan bertanggung jawab. Jika diberi kesempatan, kemandirian, kepercayaan diri, serta rasa tanggung jawab, ia akan semain berkembang. Karakter positif tersebut menurut sebuah penelitian, merupakan karakter yang dimiliki orang-orang yang tangguh, dan jika kita membiasakan anak kita terlatih seperti itu, justru kita sedang membekali diri anak untuk kelak agar mampu menghadapi berbagai tantangan dikemudia hari.

Terkadang kita sebagai orangtua terlalu sering melarang anak dalam mereka memulai mencoba sesuatu dengan bermacam alasan dari alasan untuk keamanan, rasa syang dan sebagainya, padahal yang dibutuhkan anak kita pada usianya adalah berani mencoba suatu hal baru untuk menyempurnakan pembelajarannya. Ya kadang kita memang perlu extra tenaga untuk kerja dua kali, tapi ingat deh, dengan mereka melakukan hal tersebut, justru secara tidak langsung kita sedang mendidiknya. Bahkan yang lebih buruk lagi adalah kita telah menghakimi, melabelkan dan juga mendoakan anak kita untuk menjadi anak yang negatif, Contohnya disaat kita pernah mengatakan anak kita “Bandel amat sih, ngerepotin banget sih, cengeng bener sih, nakal banget sih…..” dan masih banyak lagi umpatan seperti itu. Pdahal kata-kata tersebut semua berasal dari pikiran kita sebagai orangtuanya yang mungkin gak sabaran, gak mau repot dan emosian. Dengan label-label tersebut yang awalnya anak kita beritikad baik jadinya malah jadi merasa salah dan ingat ucapan orangtua itu doa, maka secara gak langsung, kita sedang mendoakan anak kita menjadi karakter yang negatif.

Pembelajaran bagi saya dari setiap kejadian yang saya alami dengan anak-anak adalah peristiwa apapun itu sebenarnya dapat menjadi sebuah media pembelajaran oleh anak kita jika kita benar dan bijak dalam meresponnya. Ayah dan Bunda, mana yang lebih menguntungkan disaat kita memarahi anak ketimbang kita sama-sama belajar melihat dan memaknai dari sebuah kejadian, kita belajar untuk melihat sisi lain, membuat kita lebih open minded, melatih diri untuk lebih memilah respon dengan kepala yang dingin, dan si anak pun dapat belajar hal baru dengan bimbingan dari orangtua yang cerdas. Seperti yang dikatakan dalam buku Parenthink karangannya Mona ratuliu, Hanya orangtua yang cerdas yang dapat membimbing anaknya menjadi karakter yang bertanggung jawab dan mandiri.

Menjadi orangtua tidak ada sekolah bakunya, justru selama kita menjadi orangtua selama itu pula kita harus tetap belajar dan belajar, jadi jangan anggap pekerjaan kantormu dan karirmu lebih sulit dari pekerjaan sebagai orangtua yah…. Selamat belajar bersama, bermain bersama, bersabar bersama dan tersenyum bersama yah Bunda dan Ayah.

Jakarta, 4 April 2017

Coretan Jemari Bunda Inggit

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *